Pro Dan Kontra Kawasan Tanpa Rokok

Kawasan tanpa rokok (KTR) sudah bukan barang baru di negara maju, tetapi di tanah air Perda KTR baru mulai bermunculan 2 tahun belakangan. Aturan ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari paparan asap rokok. Suatu hal yang wajar karena semua, termasuk industri rokok (makanya ada label/gambar peringatan), sudah tahu bahwa asap rokok buruk bagi kesehatan, sehingga harus dijauhi. Tidak heran bila aturan ini didukung luas oleh masyarakat, tetapi ada juga sebagian kecil yang bersuara lantang menentang KTR. Mari kita simak pentingnya KTR dan juga alasan yang didengungkan untuk menunda KTR.

Perlunya kawasan tanpa rokok

Pertama, perlu dipahami bahwa rokok mengandung bahan adiktif (nikotin), bahan beracun berbahaya (link racun dalam rokok), dan penyebab kanker/karsinogenik (bisa dicek di sini) sehingga harus didudukkan dan diperlakukan sesuai tempatnya. Beberapa zat berbahaya lain telah kita ketahui dibatasi penggunaannya, seperti pelarangan formalin/formaldehida (penyebab kanker sama seperti rokok) dalam makanan atau kewajiban lulus uji emisi asap kendaraan.

Cigarette-Smoke-Compounds-March-15Beberapa bahan beracun berbahaya yang ada dalam rokok dan dampaknya. Sumber: www.compoundchem.com

Dalam konteks rokok, asap rokok berbahaya bagi penghisapnya dan juga bagi orang lain yang ikut terpapar asap rokok/perokok pasif (cek link ini dan ini juga). Tidak hanya asapnya, debu rokok yang menempel di barang-barang dan pakaian juga berdampak buruk karena mengandung racun yang sama dengan asap rokok (bisa dicek di sini). Tidak hanya itu, berbagai penelitian pun telah membuktikan bahwa tidak ada level aman untuk asap rokok (ini jurnalnya), sehingga asap rokok tidak boleh ada di dalam rumah, kantor, tempat tertutup, dan tempat-tempat ruang berkumpul publik.

Permasalahan selama ini, merokok terlanjur dianggap sebagai aktivitas biasa. Meski tahu asap rokok berbahaya, sebagian perokok tidak segan merokok di sembarang tempat, bahkan di sekitar anak-anak seolah-olah asap polutan yang dihembuskan adalah udara bersih. Ingat, biasa bukan berarti benar. Hal buruk yang menjadi kebiasaan harus dihentikan. Salah satunya dengan kawasan tanpa rokok yang bertujuan mendenormalisasi rokok sekaligus melindungi rakyat dari bahaya asap rokok.

Penentangan kawasan tanpa rokok

Beberapa alasan yang kerap di lontarkan untuk menentang KTR antara lain: KTR melanggar hak individu, menyebabkan pabrik tutup, dan belum bisa dilaksanakan karena harus ada tempat khusus merokok. Mari kita tengok, apakah alasan-alasan tersebut valid.

  1. Merokok adalah pilihan individu, begitu kata perokok dalam pembelaannya.

Merokok adalah pilihan. Benarkah merokok adalah pilihan? Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Pada awalnya, benar merokok adalah pilihan. Seseorang memilih mencoba rokok karena ingin terkesan keren akibat korban iklan, ikut-ikut teman, ingin terlihat dewasa, dan dorongan lainnya. Setelah beberapa kali merokok, alasan merokok mengalami perubahan. Lidah terasa pahit kalau tidak merokok, tidak ada ide bila tidak merokok, pusing kalau tidak merokok, atau dengan kata lain hidup jadi susah kalau tidak merokok, yang artinya timbul gejala kecanduan rokok. Gejala-gejala tersebut, disadari atau tidak, diputar balik oleh pecandu rokok menjadi cerita klasik yang sering kita dengar, kalau merokok jadi ada ide, pikiran lebih fresh, dan mengurangi stres.

Pada fase kecanduan rokok, merokok tidak bisa lagi disebut pilihan. Hidup pecandu tidak lagi bebas, bahkan bisa menjadi buta atas hak orang lain. Seorang bapak tidak segan merokok sambil menggendong anaknya, membawa anaknya makan di tempat merokok, bahkan pengeluaran untuk rokok bisa lebih besar daripada pendidikan atau makanan keluarga. Jika ada yang berkeras merokok di tempat yang menggangu orang lain, itu dorongan candu nikotin, bukan pilihan nurani.

  1. Kawasan tanpa rokok, menyebabkan pabrik rokok tutup

Basis argumen ini adalah kawasan tanpa rokok menyebabkan konsumsi rokok menurun sehingga produksi turun dan prabrik rokok bangkrut. Argumen ini adalah asumsi sebab akibat yang dilebih-lebihkan dan tidak berbasis fakta (slippery slope argument). Kawasan tanpa rokok tidak menyuruh perokok berhenti merokok, tapi mengatur agar perokok tidak merokok di sembarang tempat. Perlu dipahami juga bahwa rokok sebagai adiktif merupakan barang yang tidak mudah turun konsumsinya. Perokok akan tetap merokok, tapi tentunya di tempat yang tidak dilarang.

  1. Kawasan tanpa rokok harus ditunda sampai ada tempat khusus merokok

Perokok menganggap kawasan tanpa rokok melanggar kebebasan mereka untuk merokok. Jika kawasan tanpa rokok akan diberlakukan, sebagian perokok menuntut agar pemerintah terlebih dahulu menyediakan tempat khusus merokok. Dengan kata lain, perda kawasan tanpa rokok dipaksa untuk ditunda sampai tuntutan terpenuhi. Alasan ini egois dan tidak logis karena memaksakan hak merokok di atas menghirup udara bersih. Logika sehatnya, kawasan tanpa rokok diprioritaskan secara mutlak karena kesehatan adalah kebutuhan, sedangkan merokok bukan kebutuhan hidup.

Dari argumen yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa KTR merupakan perlindungan terhadap hak hidup sehat. KTR ditentang karena mendobrak kebiasaan lama yang menganggap merokok adalah normal. Hal ini dapat dipahami karena sifat manusia yang tidak mau kehilangan kemudahan yang sebelumnya dimiliki (lost aversion), dalam hal ini kemudahan merokok di mana pun. Tapi, sulit bukan berarti mustahil, dengan KTR ini kita berproses menuju Indonesia sehat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: