Pemantauan Terapi Besi Pada Anemia Defisiensi Besi

Semua dokter pasti pernah mendapat kasus anemia defisiensi besi dan memberi suplementasi besi sebagai terapinya. Lalu, bagaimana follow up-nya?

Pasien datang dengan keluhan mudah lelah dan sering pusing. Pemeriksaan fisis konjungtiva pucat. Hasil lab Hb 8,2 g/dL, MCV 74 fL, MCH 26 pg. Besi serum & feritin rendah, TIBC meningkat. Cocoklah anemia defisiensi besi. Setelah mencari & menatalaksana penyebab defisiensi besi, memberi suplemen besi, lalu bagaimana cara pemantauannya? Untuk memahami respons terapi besi, perlu diketahui dahulu tahapan terjadinya anemia defisiensi besi.

Stadium Defisiensi Besi

Stadium defisiensi besi terdiri dari 3 tahap, yaitu:

1.  Deplesi besi

Cadangan besi tubuh menurun yang ditandai oleh ferritin yang rendah, tetapi kadar besi serum masih normal.

2.  Eritropoiesis defisiensi besi

Stadium ini ditandai oleh kadar besi serum yang menurun, tetapi kadar Hb masih normal. Kapasitas pengikatan besi meningkat (TIBC) tetapi besi serum rendah, sehingga saturasi transferin (SI/TIBC x 100%) menurun. Kadar besi untuk sintesis Hb dalam retikulosit (hemoglobin content of reticulocyte / CHr atau Ret He) menurun, tetapi kadar Hb belum sampai anemia. MCV dan MCH  masih dalam batas rujukan.

3.  Anemia defisiensi besi

Kadar Hb menurun di bawah nilai rujukan. Pada anemia ringan eritrosit masih normositik normokrom, pada anemia yang lebih berat eritrosit menjadi mikrositik hipokrom.1,2

Gambar 1. Stadium defisiensi besi.3

Stadium ADB

Perubahan gambaran darah tepi pada anemia defisiensi besi:

  • Perubahan eritrosit mulai terlihat saat kadar Hb di bawah 10 g/dL. Awalnya eritrosit menjadi mikrositik, dengan bentuk dan kandungan hemoglobin yang masih normal.
  • Saat kadar Hb di antara 9 – 11 g/dL penurunan ukuran eritrosit (MCV) ekuivalen dengan berkurangnya hemoglobin (MCH) sehingga eritrosit terlihat mikrositik dengan sedikit/tidak hipokromik (MCHC relatif tidak berubah). Selain itu, anisositosis dan poikilositosis juga mulai tampak.
  • Saat kadar Hb kurang dari 9 g/dL eritrosit terlihat mikrositik hipokrom. Morfologi sel semakin tidak teratur (poikilositosis) yang merupakan tanda peningkatan stimulasi eritropoietin, tetapi eritropoiesis yang terjadi tidak efektif (eritropoiesis inefektif). Selain itu, dapat ditemukan sel pensil, yaitu eritrosit dengan kandungan Hb yang rendah sehingga sel kolaps dan menjadi pipih.4

Gambar 2. Perubahan morfologi eritrosit pada anemia defisiensi besi.4

Perubahan morfologi adb

Respons terapi besi pada anemia defisiensi besi:

Terapi besi sebaiknya dievalusi pada minggu ke-3 atau 4 untuk menilai adanya respons terapi. Jika tidak ada respons (peningkatan Hb kurang dari 1 g/dL dalam 1 bulan), evaluasi lebih lanjut sebelum memutuskan untuk meneruskan terapi. Secara umum, respons tubuh terhadap terapi besi adalah perbaikan gejala klinis, peningkatan retikulosit, peningkatan kadar Hb, lalu peningkatan kadar serum besi, dan terakhir pengisian cadangan besi (ferritin):

  • Gejala klinisSakit kepala, lelah, pika, parestesia, rasa terbakar pada mukosa orofaring berkurang dalam beberapa hari.5
  • RetikulositRetikulosit mulai meningkat pada hari ke-3, puncaknya pada hari ke-9 dan 10 (retikulosit 4-10%).Respons retikulosit tidak signifikan pada anemia ringan.5
  • Kadar HbHb sedikit meningkat pada 2 minggu pertama, setelah itu laju peningkatan Hb menjadi lebih cepat. Dalam 4-5 minggu terapi besi, kadar Hb sudah dapat mencapai setengah jalan menuju nilai rujukan. Di akhir bulan ke-2 atau lebih cepat, kadar Hb sudah mencapai nilai rujukan.5
  • Saat kadar Hb sudah di antara 10-12 g/dL, laju peningkatan Hb menjadi lebih lambat karena perbaikan anemia akan menurunkan stimulasi eritropoietin. Pada tahap ini meningkatkan dosis terapi tidak mempercepat peningkatan Hb dan menurunkan dosis dapat membantu menjaga kepatuhan minum obat.4
  • Tujuan terapi tidak hanya mengoreksi anemia, tetapi juga mengisi cadangan besi 0,5-1 g yang dicapai dengan pemberian besi hingga 6 bulan kemudian setelah kadar Hb normal.3

 Jika terapi besi tidak memberikan respons, pikirkan kemungkinan berikut untuk dievaluasi:

  1. Salah mendiagnosis. Diagnosis banding dari anemia mikrositik hipokrom adalah anemia penyakit kronik, thalassemia, anemia sideroblastik,
  2. Ada perdarahan kronik yang belum terkontrol,
  3. Ada penyakit penyerta yang menyebabkan anemia, seperti penyakit inflamasi, keganasan, penyakit ginjal atau hepar, defisiensi vitamin  B12 atau folat,
  4. Dosis terapi tidak adekuat,
  5. Pasien tidak meminum obat sesuai anjuran,
  6. Adanya hambatan penyerapan besi (konsumsi teh, achlorrhydia, dll).2, 5

Keberhasilan terapi banyak dipengaruhi oleh kepatuhan pasien untuk meminum obat. Agar pasien tidak putus berobat lakukan edukasi mengenai efek samping yang mungkin terjadi, cara mengatasinya, dan penyesuaian dosis. Selanjutnya, pantau keberhasilan terapi dengan mengevaluasi respons klinis dan laboratorium seperti yang telah dibahas. Semoga artikel ini bermanfaat untuk sejawat semua 🙂

 Referensi

  1. McKenzie SB. Anemias of disordered iron metabolism and heme synthesis. In: McKenzie SB, Williams JL, editors. Clinical laboratory hematology. 2nd ed. New Jersey: Pearson; 2010. p.177-92.
  2. Andrews NC. Iron deficiency and related disorders. In: Greer PJ, et al, editors. Wintrobe’s clinical hematology. 12th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2009. P.811-30.
  3. Longo DL, et al. Iron deficiency and other hypoproliferative anemias. Harrison’s principles of internal medicine.. New York: McGraw-Hill; 2012.
  4. Hillman RS, Ault KA, Rinder HM. Iron deficiency anemia. Hematology in clinical practice. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2005.
  5. Lichtman MA, et al. Disorders of iron metabolism. Williams hematology. 7th ed. New York: McGraw-Hill; 2007.

Artikel terkait:

https://psikoplasma.wordpress.com/2014/05/17/pendekatan-diagnosis-anemia-normositik-normokrom/

https://psikoplasma.wordpress.com/2013/11/13/apa-saja-penyebab-anemia/

Iklan

2 komentar

  1. saya izin copy paste ya..
    terimakasih
    artikel ini sangat membantu

    1. Boleh dengan menyertakan link artikelnya juga. Senang bisa membantu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: