Nilai Normal itu Masa Lalu, Saatnya Move On ke Nilai Rujukan!

P: Dok, saya mau konsul. Saya habis check up, terus SGPT-nya tinggi dok di atas normal, hasilnya 57. SGOT-nya masih normal. Saya sakit apa ya?

Dr: Coba lihat hasil labnya. (Hmm.. dilihat di kertas lab nilai normal untuk SGPT antara 10-50 U/L. Naiknya cuma sedikit sih, sakit apa ya?)

Dahulu istilah nilai normal begitu akrab di telinga, tapi perhatikan kertas lab masa kini. Sekarang nilai normal telah beralih kata menjadi nilai rujukan atau interval rujukan. Latar belakang perubahan ini adalah banyaknya kesalahpahaman mengenai definisi normal yang terkandung dalam istilah nilai normal.

Wajar jika istilah nilai normal menimbulkan salah paham. Namanya saja normal, sehingga mencetuskan pemikiran bahwa hasil lab di dalam rentang tersebut artinya pasien dalam kondisi normal. Lalu, jika hasil lab di luar rentang tersebut artinya tidak normal, begitu kah? Nah, istilah ini telah lama menggiring pemikiran kita bahwa di luar nilai normal artinya ada penyakit, padahal maknanya tidak sesederhana itu.

Selain di bidang klinis, istilah nilai normal juga menimbulkan kesalahpahaman di bidang statistik dan epidemiologi:

  1. Di bidang statistik kumpulan nilai disebut “normal” jika distribusinya mengikuti kurva Gauss. Penggunaan kata normal di sini mengarahkan kita bahwa distibusi data biologis yang normal adalah yang simetris & berbentuk bel seperti distribusi Gauss. Tapi, ternyata distribusi data biologis yang sebenarnya tidak selalu seperti kurva Gauss.
  2. Di bidang epidemiologi, istilah nilai normal dapat memunculkan interpretasi sebagai berikut: Nilai SGPT 10-50 U/L adalah normal, sedangkan di luar nilai tersebut adalah abnormal. Interpretasi yang tepat seharusnya adalah: sekitar 95% nilai yang didapat dari pengukuran SGPT dari sekelompok individu yang dianggap sehat berada pada nilai 10-50 U/L.

Karena alasan-alasan di atas, istilah nilai normal tidak lagi digunakan sejak tahun 1980an. Sebagai penggantinya, digunakan istilah nilai rujukan yang lebih mencerminkan bagaimana cara mendapatkan nilai tersebut. Memahami pengertian nilai rujukan dan bagaimana cara mendapatkannya akan membuat kita lebih mudah membayangkannya, mari disimak.

Nilai rujukan didefinisikan sebagai nilai yang didapat melalui observasi atau pengukuran kuantitas suatu parameter dari sekelompok individu rujukan (usia, jenis kelamin, & kondisi tertentu yang dianggap sehat). Dari sekelompok individu tersebut diambil 95% nilai yang berada di tengah kurva untuk menjadi nilai rujukan/interval rujukan. Dengan demikian akan ada 2,5% individu sehat yang nilainya di bawah nilai rujukan dan 2,5% individu sehat yang nilainya ada di atas nilai rujukan. Dari sini kita bisa lihat bahwa penentuan nilai rujukan bukan berdasarkan kondisi sakit vs sehat, tapi lebih menggambarkan keadaan umum orang sehat.

Di samping aturan 95% tersebut, sebagian nilai rujukan juga dapat dibuat berdasarkan ketentuan dari organisasi profesional. Misalnya Asosiasi Kardiologi Amerika dan Eropa yang menetapkan peningkatan troponin sebagai nilai di atas persentil 99. Nilai rujukan juga dapat dibuat berdasarkan rentang target terapi yang berbasis rekomendasi uji klinis, misalnya nilai rujukan kolesterol yang dibuat oleh NCEP ATP III.

Sekarang jelas bahwa nilai rujukan dibuat dari sekelompok individu sehat. Nilai rujukan bermanfaat bagi klinisi untuk mendapat gambaran bahwa individu sehat umumnya memiliki rentang nilai X hingga Y. Untuk menginterpretasi hasil lab yang di luar nilai rujukan memerlukan pengetahuan akan gambaran hasil lab berbagai penyakit untuk menilai signifikansinya. Nah,sekarang mari tinggalkan istilah nilai normal dan kita move on ke nilai rujukan!

Referensi:

  1. Solberg HE. Establishment and use of reference values. In: Burtis CA, Ashwood ER, Bruns DE, editors. Tietz textbook of clinical chemistry and molecular diagnostics. 4th ed. Philadelphia: Elsevier; 2006. P.425-8.
  2. Jhang JS, Sireci AN, Kratz A. Postaalysis: medical decision making. In: McPherson RA, Pincus MR, editors. Henry’s clinical diagnosis and management by laboratory methods. 22nd ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2011. P.82-3.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: